Biodiesel Jadi Pengganti Bahan Bakar Fosil pada 2045

Tak Berkategori

Kamis, 17 Agustus 2023 – 08:57 WIB

Depok – CEO Agro Investama Group, Petrus Tjandra mengatakan Indonesia punya pengganti bahan bakar fosil, dan bisa berhenti menggunakan bahan bakar fosil pada 2045 mendatang, dengan memanfaatkan biodiesel.

Baca Juga :

Ini Kata Ahok Bahan Bakar yang Cocok Dijual di SPBU

Saat memberikan pemaparannya di acara “Peran dan Kontribusi FMIPA UI dalam Pengembangan Riset dan Peningkatan Nilai Sawit Indonesia,” yang digelar di kampus Universitas Indonesia (UI), Depok, Petrus Tjandra menjelaskan, Indonesia punya industri kelapa sawit yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk biodiesel. Namun kapasitas produksi minyak sawit di Indonesia belum maksimal.  Menurutnya, mendorong kapasitas produksi hingga mencapai 100 juta ton pada 2045 bukanlah hal yang mustahil. 

“Artinya di dua ribu empat lima akan ada produksi seratus juta ton minyak sawit. Sehingga kita punya renewable energy,” ujar Petrus Tjandra, 17 Agustus 2023.

Baca Juga :

Solusi Pemprov DKI Atasi Polusi Udara: Bahan Bakar Pabrik Diganti Gas

Petrus menyebut, saat ini kapasitas produksi satu hektar lahan sawit hanya sekitar sembilan ton tandan buah segar. Padahal jika dikelola dengan maksimal, menurut calon anggota DPD RI itu satu hektar lahan sawit bisa menghasilkan hingga 25 ton tandan buah segar. 

Petrus Tjandra di Kampus UI

Petrus Tjandra di Kampus UI

Baca Juga :

Buntut Dugaan Foto Telanjang Miss Universe Indonesia, CEO dan Jajaran Direktur Pilih Mundur

Kurang maksimalnya kapasitas produksi tersebut dikarenakan perawatan dan panen yang tidak  baik. Kata dia, petani sawit masih banyak yang menyepelekan kualitas bibit, dan masih banyak yang salah memilih waktu panen. 

“Kerap kali saat terdesak kebutuhan maka buah yang masih mentah dipotong. Padahal kadar minyaknya baru empat belas persen. Malah takut memetik saat matang karena petani khawatir busuk,” tuturnya. 

Halaman Selanjutnya

Selain itu, menurutnya penting juga dibangun fasilitas pengolahan yang jaraknya tidak jauh dari lokasi panen. Hal tersebut dapat meminimalisir terjadinya kebusukan pada sawit, saat dikirim ke lokasi pengolahan. 

img_title



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *