Geger, Gunung Tiba-tiba Muncul di Jawa Tengah, Terkuak Alasannya

Senin, 1 April 2024 – 13:00 WIB

Jakarta – Sebuah gunung baru tiba-tiba muncul di wilayah Dusun Medang, Sendangrejo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Baca Juga :

Gunung Karangetang Berstatus Waspada, PVMBG Imbau Radius 1,5 Km Harus Steril dari Warga

Kemudian, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengeluarkan penjelasan tentang fenomena Bledug Kramesan atau ‘gunung baru’ tersebut.

Laman Kementerian ESDM,  menyebut bahwa Bledug Kramesan adalah hasil dari letupan lumpur, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah. Akibat letupan yang berlangsung dalam waktu lama, lumpur tersebut membentuk sebuah gunung.

Baca Juga :

Penjelasan Pakar Geologi soal Gempa Tuban yang Guncang Jawa Timur

Badan Geologi mencatat bahwa fenomena seperti Bledug Kramesan sudah ada sejak lama, dan hal tersebut dijumpai dalam beberapa naskah dari kerajaan-kerajaan di Jawa yang menjelaskan tentang keberadaan gunung lumpur ini. Jarak antara Bledug Kramesan dan Bledug Kuwu adalah sekitar 3,4 km.

Baca Juga :

Khazanah: Pertautan Antara Ayat Al-Qur’an tentang ‘Gunung Berjalan’ dan Fakta Ilmiahnya

Bledug Kramesan ini memiliki ketinggian 25 meter dari permukaan tanah. Bledug-bledug ini adalah material dari mud diapir yang lolos ke permukaan melalui rekahan-rekahan maupun struktur sesar.

Dalam catatan Badan Geologi, faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya mud diapir di antaranya:

  • Pertama, Amblesan: tektonik penurunan yang stabil (stable tectonic submergence).
  • Kedua, Kecepatan Pengendapan: pengendapan yang cepat dari sedimen berumur muda yang tebal (rapid deposition of thick young sediments).
  • Ketiga, Lapisan plastis: terdapat lapisan yang plastis di bawah permukaan (presence of plastic strata in the subsurface).
  • Keempat, Overpressure dan under-compacted: cairan mengalami overpressure dan sedimen di bawah pemadatan (fluid overpressure and under-compacted sediments).
  • Kelima, Potensi hidrokarbon: pasokan gas yang cukup dan potensi hidrokarbon yang tinggi (enough gas supply and high hydrocarbon potential).
  • Keenam, Produksi air diagenetik: produksi air secara diagenesa dari serangkaian lempung yang terkubur (production of diagenetic waters from buried clayey series).
  • Ketujuh, Tektonik kompresi: kedudukan tektonik kompresi dengan banyak patahan dan kegempaan yang tinggi (compressional setting-numerous faults-high seismicity). Kedelapan, Gradien panasbumi tinggi: kemungkinan dengan gradien panas bumi yang tinggi (possibly high geothermal gradient).
Baca Juga  Mengenal Prinsip Permintaan Dan Penawaran

“Secara struktur geologi bledug terletak pada area yang tidak padat patahan dan kelurusan karena sifatnya yang plastis. Sehingga pada daerah mud diapir tidak terindikasi adanya kelurusan patahan, namun terdapat struktur geologi berupa antiklin dengan sumbu relatif Barat Daya – Timur Laut,” terang Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid dalam siaran persnya.

Wafid menjelaskan, pengaruh kegempaan terhadap mud diapir dan mud volcano adalah adanya kemungkinan untuk terbukanya rekahan-rekahan yang dilewati oleh material lumpur.

Dengan terbukanya rekahan-rekahan tersebut material mud diapir akan mengalami pergerakan naik dan ada penambahan debit material, namun dengan adanya kompresi dan tekanan tektonik pada area tersebut akan terjadi titik kesetimbangan seperti pada saat sebelum momen kegempaan terjadi.

Demonstrasi di Swedia Bela Palestina (Doc: Middle East Monitor)

Demonstrasi di Swedia Bela Palestina (Doc: Middle East Monitor)

Photo :

  • VIVA.co.id/Natania Longdong

“Berdasarkan data-data tersebut, fenomena terjadinya Bledug Kramesan di daerah Grobogan tersebut bukanlah suatu fenomena yang luar biasa. Apalagi tidak jauh dari Bledug Kramesan terdapat Bledug Kuwu yang secara umum sudah diketahui oleh publik sebagai fenomena mud volcano ( gunung lumpur) yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.”

Sementara itu, terkait dengan aktivitas dari semburan lumpur yang meningkat pasca terjadinya gempa di Bawean pada tanggal 22 Maret 2024 dengan skala 6.5 SR diduga dapat menyebabkan hal-hal berikut:

Sistem migrasi hidrokarbon maupun lumpur menjadi lebih aktif karena adanya bukaan berupa rekahan maupun patahan sebagai akibat adanya gempa dangkal ini;

Gejolak lumpur di daerah sekitar Bledug Kuwu dan Bledug Kramesan menemukan jalannya untuk keluar melewati rekahan yg terbentuk akibat gempa tersebut.

“Untuk itu Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat di sekitar area Bledug Kuwu dan Bledug Kramesan tidak perlu merasa panik dan agar supaya tidak mempercayai berita-berita yang tidak bertanggungjawab serta tidak jelas dasar keilmuannya, sehingga dapat memberikan penafsiran yang beraneka macam. Badan Geologi akan terus memonitor perkembangan fenomena alam.”

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *